Menjadi Aku

PAGI ini kusajikan sekelumit karya cemerlang Mitsuo Aida (1924-1991), penyair dan ahli kaligrafi asal Jepang. Untuk sekilas mengingatkan kita akan pentingnya keluguan hati. Sebab, Kegilaan modernitas terkadang menghapus hal-hal yang paling hakiki dan memaksa kita untuk menjadi orang lain, sehingga kita lupa tentang eksistensi diri yang paling hakiki. Bahwa sejatinya aku tetaplah aku dan tak pernah menjadi dia.

Sebab banyak hal, tentang sekarang. Kita sudah banyak melupai diri, melupakan esensi kita sebagai aku. Kita sudah terlalu banyak ingin melampaui diri kita dalam bentuk negatifnya bahkan sampai memaksa diri menjadi orang lain. Mungkin, mitsoo mengingatkan kita, memalingkan kita untuk sejenak saja mengerti akan sebenarnya hakikat kita tentang menjadi diri sendiri. Menjadi aku.

***

Karena telah menjalani hidupnya sepenuh-penuhnya

Rerumputan yang kering gersang tetap menarik perhatian orang-

Orang yang berlalu lalang.

Bunga-bunga sekadar berbunga,

Dan ini mereka lakukan sebaik-baiknya.

Bunga tali putih yang mekar tak terlihat di lembah,

Tak butuh menjelaskan dirinya pada siapa-siapa;

Dia hidup hanya demi keindahan.

Namun kata “hanya” itu tak diterima manusia.

Andai tomat-tomat ingin menjadi melon,

Betapa menggelikannya.

Heran sungguh saya melihat,

Begitu banyak orang ingin menjadi yang bukan diri mereka;

Apa gunanya menjadikan diri sendiri bahan tertawaan?

Tak perlu kita selalu berpura-pura tangguh,

Tak guna membuktikan sepanjang waktu bahwa semuanya baik-

Baik saja,

Usahlah memikirkan kata orang,

Menangislah kalau perlu,

Menumpahkan air mata itu baik

(sebab hanya dengan begitu kita akan bisa tersenyum lagi).

***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *