Meratapi Demokrasi Kita

MATA publik kemudian masih saja tertuju pada suatu fokus, yakni pada foto-foto atawa video yang dibuat narasi. Tetapi ini bukan hanya masalah pandangan atau soal mata, tetapi apa yang kemudian saya akan bicarakan adalah tentang nasib sebuah bangsa. Betapa tidak, esensi demokrasi kita sedang merembes ke wilayah soalan citra, bukanlah lagi soalan nilai-nilai.

Dimulai dari gejolak apa yang akan kita hadapi nanti, soal bicara: Siapa presiden kita? Kita tidak dimelekkan pada soalan jor-joran argumentasi program yang memadai untuk kita jadikan nilai pijakakan tuk memilih, tetapi lebih kepada soalan siapa yang lebih banyak (orang) hadir dalam sebuah kampanye. Itu pun hanya melalui foto atau video.

Masyarakat sebenarnya sedang tertipu, termasuk saya salah satunya. Karena demokrasi kita sedang bergerak menurun, bukan lebih maju. Simak, apa yang dibincang orang-orang awam ataupun para pakar di grup whats up, facebook, twitter atau media sosial. Di situlah cermin demokrasi, ataupun model perpolitikan kita kini.

Semua terasa hambar, tanpa rasa, tanpa nilai. Mungkin kita telah berhasil mendudukan seorang Presiden, tetapi setelahnya, luka paska itu akan sulit terobati, perdebatan beruntun yang tiada henti antara pendukung calon presiden alangkah dahsyatnya. Yang paling parah, Isu agama hingga peribadadatan kaum tertentu kini terjun bebas ke dalam ruang-ruang politik. Siapa yang akan menyanggah!

Belum lagi, ditambah parahnya paparan Hoax, fitnah, dan tebaran kebencian yang merupakan sarapan sehari-hari kita di momentum politik ini. Pancasila bukan lagi sebagai nilai atau panduan kita lagi dalam bernegara dan berdemokrasi, terlalu banyak nilai-nilai yang hilang. Kiasan Terry Eagleton mungkin tepat untuk situasi ini, kita tengah menghadapi “oasis nilai-nilai.”

Terlebih, sebuah agama atau identitas tertentu berubah menjadi anarki, seolah-olah ada yang telah dizolimi. Sehingga Tuhan pun diajak turun ke bumi untuk menyelesaikan proyek demokrasi.

Sungguh ini, adalah hal yang sulit dimengerti, entah siapa yang patut disalahkan? Setahu saya kita memang negara yang beragama, tetapi bukan negara Agama. Kita adalah negara demokrasi dengan pancasila sebagai nilai adiluhungnya, semua entitas hidup di dalamnya: suku, agama, ras, bangsa. Tidak hanya sekedar hidup tetapi juga dilindungi, dan itulah sebenarnya Indonesia sebagai nation dan juga sebagai state.

Atawa saat ini bukanlah presiden yang kita butuhkan, melainkan hanya sebuah lilin agar kita tak tersandung dan tak jatuh, ketika kita sedang memasuki lorong-lorong Indonesia yang kian hari semakin gelap!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *