Karena Bumi Bulat

KITA adalah penduduk bumi yang hidup dalam semesta luas ini. Jaraknya hampir tak terbatas dari pelupuk mata, melintang dari selatan ke barat dan membujur dari utara sampai selatan. Saking luasnya, semesta ini berjarak tak terhingga. Saya masih berkeyakinan, meski matematika telah dilahirkan tak ada yang secara pasti menghitung berapa luasan bumi ini! Serius.

Semesta kita, bumi berbentuk bulat serupa lingkaran. Memiliki kodrat berputar pada porosnya dan mengelingi matahari sepanjang massa. Waktu bumi untuk berputar pada porosnya memakan massa selama 24 jam, dan massa bumi mengelilingi matarahari menelan waktu 365 hari.

Karena bumi berbentuk lingkaran, maka kita pun sebagai penduduk bumi tentu pasti hidup pula seperti lingkaran. Membentuk sebuah siklus yang melingkar-lingkar. Bermula dari nol dan akan kembali pula ke titik nol. Begitulah kodratnya.

Tetapi semua pasti punya alasan dan saling berkaitan. Tak pernah ada belahan bumi yang selamanya malam, dan tak ada pula yang selamanya siang. Begitu pula tentang hidup manusianya, tak pernah ada yang selamanya baik-baik saja, kita pun akan mengalami hal yang tidak baik-baik pula.

Saya meyakini akibat bumi yang serupa lingkaran, kita pun akan mengalami hidup seperti itu. Menjelajahi kisah hidup seperti lingkaran. Seperti sejarah yang suatu saat akan bertemu pada titik keberulangan. Hegel, seorang filsuf mengutarakan ini sebagai dialektika. Sebuah hukum peristiwa yang selamanya akan berdialektika dan terus berulang.

Secara singkat sebuah peristiwa akan mengalami proses dialektika tesis, anti tesis, dan sintesa. Dan dari hegel kita akan melalui hidup dialektis, hidup dalam tahapan-tahapan peristiwa. Kita manusia, tak pernah stagnan, kita bergerak.

Kita manusia, yang sejak lahir tak bisa berjalan menjadi bisa berjalan, lalu suatu peristiwa ketika waktu tua, kita kembali akan tak bisa berjalan. Kita yang tadinya tak memiliki apa-apa, mendapatkan apa-apa, lalu akhirnya akan kembali menjadi tak punya apa-apa. Seperti lingkaran kita pasti kembali ke titik awal, kita akan kembali ke titik balik, seperti sedia kala.

Tak ada yang pernah berlama-lama dalam suatu peristiwa. Seperti halnya pasang kita pasti akan kembali pula ke surut. Seperti hidup bumi, kita pun demikian!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *